Showing posts with label Do - Just a Story. Show all posts
Showing posts with label Do - Just a Story. Show all posts

Saturday, 16 April 2011

There is always a truth

Rasa hati Erwin tak menentu, cepat-cepat ia taruh sendok dan garpu yang tengah ia pegang, karena ia tak mau wanita didepannya mengetahui bahwa dirinya mulai bergetar. matanya tak sanggup lagi fokus, rasanya ingin sekali ia bergegas lari dari restoran itu, sembunyi dibalik selimutnya sembari berkata pada dirinya sendiri "gawat-gawat-gawat..apa yang kamu lakukan winn??" tapi jelas itu tak bisa dilakukannya. sekarang semua telah terlanjur terlempar, tak bisa ia tarik kembali kalimat-kalimat yang telah lisannya tuturkan..secara sadar sepenuhnya, walau ia tetap takjub dengan keberaniannya menyatakan hal tersebut. hal yang telah lama ia pendam dalam hati....

--
Senja hari di cerahnya kota metropolitan berhiaskan lampu-lampu tinggi menara pencakar langit yang mulai dinyalakan. Erwin yang baru saja menyelasaikan setumpuk pekerjaan dikantornya nampak masih bersemangat untuk menghadapi separuh akhir hari ini. ya..dia amat bersemangat, karena siang tadi ia baru saja menerima pesan singkat dari seorang wanita kawan lamanya, yang telah lama ia kenal baik sejak SMA.

"oke, bolehlah kita bertemu nanti sore kebetulan aku juga berencana membeli buku kuliah di toko buku dekat kantormu itu..ketemu di restoran biasa aja ya? sip!"

dan selama itu pulalah ia menyimpan hati pada wanita tersebut.

langkahnya tertuntun mantap melintasi area pedestrian kota yang masih dipenuhi lalu lalang manusia. hingga sampailah ia kedepan pintu besar restoran yang -seperti biasa- terbuka otomatis. "fuhhhh...", sejenak ia menghela nafas selagi larak -irik mencari sosok kawannya.

"ahh..there she is..", ucapnya pada diri sendiri setelah melihat seorang wanita berjilbab anggun duduk menghadap jendela sembari membaca buku, ditemani bungkusan kosong sisa burger grill dan sebotol minuman ringan yang masih tersisa setengahnya. ia nampak telah agak lama menunggu ditempat itu.

"hai Ra, Assalamualaikum!", sapa Erwin halus menyapa Ira.
"ahh..Waalaikumsalam..win, dari mana aja? tumben lama..", jawab Ira
"iya sori nih, kerjaan banyak n si bos juga pulangnya telat, gak enak kan kalo aku pulang duluan..sori ya..", Erwin menjelaskan.
"Ah I see..busy time ya..ok deh gak papa..". balas Ira sambil tersenyum.

akhirnya suasanapun cair antara mereka berdua. Ira yang baru saja memborong buku-buku untuk bahan tesisnya menggeser bungkusan buku yang awalnya ditaruh dihadapannya. dan mempersilahkan Erwin untuk duduk di sebrang mejanya.

tak lama waktu berlalu, mereka terus membicarakan hal-hal seru yang mereka alami di hari itu. sampai satu titik bagian pembicaraan.

"eh..kemarin ak ngobrol ama Ranti via skype, dia nanya2 kabarmu tuh..pake nanya perkembangan segala..", Ira membuka perbincangan.
"perkembangan?", Erwin heran.
"ya..dia bilang perkembangan hubungan kita, biasa sih ak selalu di ceng-cengin ama kamu dari zaman sekolah dulu..ternyata masih ampe sekarang ya..", Ira berkata sambil tersenyum lebar.
"yap..selalu Ra, dan itu benar". refleks Erwin
"apa? maksudnya?", Ira meminta penjelasan
"ya..apa gosip-gosip dari dulu, orang-orang ngeceng-cengin dari dulu itu bukan tak bersebab Ra, tapi memang nyata, aku memang menyukaimu dari dulu. aku harus akui itu."

rasa hati Erwin tak menentu, cepat-cepat ia taruh sendok dan garpu yang tengah ia pegang, karena ia tak mau Ira yang ada dihadapannya mengetahui bahwa dirinya mulai bergetar. matanya tak sanggup lagi fokus, rasanya ingin sekali ia bergegas lari dari restoran itu, sembunyi dibalik selimutnya sembari berkata pada dirinya sendiri "gawat-gawat-gawat..apa yang kamu lakukan winn??" tapi jelas itu tak bisa dilakukannya. sekarang semua telah terlanjur terlempar, tak bisa ia tarik kembali kalimat-kalimat yang telah lisannya tuturkan..secara sadar sepenuhnya, walau ia tetap takjub dengan keberaniannya menyatakan hal tersebut. hal yang telah lama ia pendam dalam hati.

"aku memang suka ama kamu Ra, terserah dengan apapun tanggapanmu tentang perasaanku ini, tapi itu emang kenyataannya." , Erwin menambahkan
.
Ira terdiam, memutar-mutar sedotan di gelas softdrinknya.

"ya..tapi aku juga gak mau kita berubah status juga sih, nanti malah aku gak lagi bisa ketemu sosok Ira yang seperti sekarang."
"aku suka Ira yang seperti ini, apa adanya seperti sekarang".

Erwin terdiam, setengah tak percaya bahwa ia telah mencurahkan perasaan yang telah lama ia pendam. perasaannya saat ini campur aduk gak karuan; lega, gelisah, galau, senang..

sejenak keduanya terdiam. saat-saat yang begitu kaku.
hanya terdengar lantunan rekaman suara Carla bruni yang membawakan lagu dari alat pemutar musik restoran.

...Mais qui est-ce qui m'a dit que toujours tu m'aimais ? Je ne me souviens plus, c'était tard dans la nuit J'entends encore la voix, mais je ne vois plus les traits "Il vous aime, c'est secret, lui dites pas que je vous l'ai dit" Tu vois, quelqu'un m'a dit...

Ira menyadari, bahwa saat inilah saat tepat untuk ia angkat bicara. dengan penuh daya upaya ia berusaha mencari kata-kata baik dan intonasi yang tepat agar situasi ini terasa lebih cair. 

"hmmm...makasih win, makasih banyak kamu sudah suka sama aku", sambil mulai menegakkan pandangannya." tapi seperti apa yang kamu juga tau, akhir-akhir ini aku lagi dekat dengan seorang kakak kelasku di kampus dan aku gak bisa pungkiri bahwa hatiku masih cenderung ke kakak itu Win.."

walau berat hati Ira menyadari ia memang harus mengatakan hal itu. Ia rasa, berterus terang adalah hal terbaik yang saat ini harus ia lakukan.
"Aku rasa lebih baik kamu tau bagaimana perasaanku yang sebenarnya kan?".
"dan, sejujurnya aku akan lebih menghargai kalo kita bisa temenan baik seperti saat ini."
"sampai suatu hari nanti, kalo memang kita berjodoh..aku tak akan menutup hatiku untukmu".

Ira menyadari sepenuh hatinya. Erwin adalah pria yang amat baik, sosok yang nyaman dan santun, sahabatnya sejak lama. tak layak sama sekali ia terlalu cepat menutup hatinya rapat-rapat bagi sosok pria seperti Erwin. disisi lain, ia juga tak dapat membohongi dirinya sendiri. perasaannya saat ini cenderung menyukai sosok pria lain.tetapi, saat ini memang dirinya tidak sedang berada dalam ikatan pertunangan, dan Erwin sangatlah layak untuk diberikan kesempatan. 

"ya..aku mengerti Ra, aku pun sudah tau kedekatan hubunganmu dengan kakak itu, dan aku sungguh dapat menerimanya". Erwin berkata sambil tersenyum kecil.
"dan terimakasih untuk masih memberikanku kesempatan supaya masih bisa menjadi sahabatmu dan untuk kesempatan yang kamu berikan ini, memang kamu wanita yang bijak Ra..Insyaallah kita serahkan saja urusan ini pada yang Maha Mengatur, jika jodoh pasti hati kita akan dipersatukan, jika tidak, pastilah ada sosok lain yang lebih baik untuk kita berdua."

"sama-sama win, terimakasih untuk perasaanmu yang begitu tulus".

seketika keduanya tersenyum kembali, Erwin yang diliputi perasaan lega karena telah berhasil mengungkapkan perasaannya selama ini. Ira pun merasa senang karena ia berhasil berkata jujur pada sosok sahabat dekatnya yang ternyata mencintainya secara tulus.

Setelah pembicaraan itu selesai, mereka berusaha untuk kembali berprilaku seperti biasa. walau memang tak dapat dipungkiri bahwa pandangan mereka satu-sama-lain akan sedikit berubah terkait dengan perasaan keduanya. tapi keduanya percaya bahwa selalu ada hikmah yang baik dibalik kisah ini..dan kejujuran adalah hal terbaik yang telah mereka lakukan untuk menyikapi persoalan ini. Erwin jujur pada Ira tentang perasaannya, Irapun jujur tentang apa yang ia rasakan pada Erwin. 

tak ada yang kecewa dan tak ada yang mengecewakan. Erwin tetap punya kesempatan, Ira pun tetap berhak mempertimbangkan perasaannya.

It is no wrong to love somebody. but it can't be forced. 
Truth, although it sometimes really hard to say, but it always to be the best to do..

Tuesday, 1 March 2011

good love..

Latest day, the sun seems shine brighter than before for him..everybody seems always smile and kind in front of him, the world just become more friendly than before.although the world still being ordinary, no changes.

Beberapa hari terakhir ini Randi merasa begitu berbahagia . bagaimana tidak? satu langkah besar untuk mencapai cita-citanya telah terlewati. keinginan besarnya untuk mencari ilmu terbaik di luar negeri telah terkabulkan, ia diterima secara resmi oleh universitas ternama di Eropa dijurusan favoritnya plus beasiswa penuh sepanjang studinya.

Kontan, beberapa bulan terakhir ia disibukkan dengan berbagai kegiatan urus mengurus segala prosedur keberangkatan. walau harus kesana kemari mengurus visa, beli perlengkapan keberangkatan, kontak pihak perwakilan kampus, mengurus akomodasi dan booking tiket,  tapi ia menikmati segala prosesnya dengan suka cita dan hati penuh bahagia.

tapi,selain kebahagaiaan atas pencapaiannya itu, sebagai pemuda biasa Randi menyadari ada hal lain yang memang membuat hatinya lebih bahagia. Adalah Nisa, teman wanitanya yang anggun, perhatian dan membuat Randi begitu merasa nyaman, tentram, ringan dan bahagia. karena itu disela-sela kesibukkannya mempersiapkan berbagai urusan kepergiannya sekolah ia selalu menyempatkan untuk bertemu Nisa baik hanya di kampus atau janjian jalan ramai-ramai bersama teman lainnya.

Hubungan mereka memang dekat, walau tidak ada jalinan ikatan yang jelas antar keduanya tetapi keduanya memang terlihat nampak cocok dan serasi. dan seiring berjalannya waktu, merekapun tak menyangkal bahwa diantara diri mereka masing-masing memiliki ketertarikan dan kecocokan yang sama.

Randi begitu menyadari bahwa kehadiran Nisa begitu memberikan warna yang indah dalam hidupnya dan rasanya begitu enggan baginya untuk menyudahi kedekatan ini begitu saja.  tapi, dirinya pun belum berani jika hendak meneruskannya dalam ikatan resmi. sesaat Randi merasakan kebimbangan dalam hatinya, antara bahagia untuk  cita-cita mengejar ilmu dengan kehidupan pribadinya.

Randi sadar bahwa dalam permasalahan ini ia tak boleh egois. "membina hubungan dengan seorang wanita bukanlah  layangan yang layak untuk diikat yang ditarik dan diulur sesukanya", hatinya berucap. ia begitu menyadari bahwa jika ia belum sanggup untuk berkomitmen maka ia tak sanggup menuntut apapun dari sang wanita. pahit-pahitnya, jikalau sang wanita menemukan pria lain disaat nanti, walau pasti akan teramat menyedihkan, ia harus menerimanya.
--
Dan disinilah, di sebuah cafe kecil yang cantik. hari ini Randi membuat janji untuk bertemu dengan Nisa. cafe ini adalah tempat favorit keduanya, Randipun sengaja untuk mengajak Nisa bertemu ditempat ini karena ia tahu persis bahwa Nisa begitu suka minuman coklat hangat beraroma mint khas yang hanya ditemukan di cafe tersebut. sambil menunggu kedatangan Nisa, Randi menyibukkan diri dalam bacaan novel sambil meneguk kopi hangat pesanannya.

"Halo, Assalamualaikum!", Randi tersadar dari imajinasi novel yang ia baca. ternyata Nisa telah duduk tepat di kursi hadapannya. Nisa, seperti biasanya mengenakan pakaian serasi dengan jilbab warna oranye cerah begitu memancarkan kepribadiaannya yang cheerfull . "aku sudah pesankan coklat mint hangat kesukaan mu tuh", ujar Randi. "wah makasih, kok tau sih aku suka banget ama suasana kafe ini dan coklat mint hangatnya?" Nisa berkata sambil tersenyum manis. "ya dong, masa gitu doang aku gak tau...hehehe" randi melanjutkan.

singkatnya, setelah beberapa menit mereka mengobrol kesana kemari, tertawa karena satu dan lain hal, Randipun memulai pembicaraan yang agak serius.

"Nis, aku kan mau pergi kurang dari sebulan lagi. masa studiku akan dimulai tengah bulan depan dan kamu pun tau kira-kira aku akan menghabiskan dua tahun disana, dan aku ingin kita bicara agak serius tentang hubungan antara kita sekarang.".

"ya..", jawab Nisa singkat.

"selama kita berkawan, secara jujur aku merasa begitu cocok dengan kamu, dan aku juga menikmati kebersamaan kita. sungguh aku ingin kita membina hubungan yang srius dengan mu." Randi berkata dengan paras muka agak memerah walau nada bicaranya masih terdengar tegas.

"ya..begitu juga aku ndi", jawab Nisa menjawab malu.

"Tapi,.." ,Randi menghela nafas, " keberangkatan ku sekolah tidak mungkin ditunda, dan keinginanku untuk melanjutkan studi disana adalah benar-benar cita-cita dan kebutuhan untuk karir masa depanku." sejenak mereka berdua terdiam. "Sungguh, aku begitu berat memutuskan ini.namun setelah aku mempertimbangkannya masak-masak dan demi kebaikan kita berdua aku memutuskan untuk tidak mengikatmu dulu hingga saat aku siap meminangmu Nis, demi menghindari adanya rasa sakit menyakiti atau rasa rindu dan sayang yang bukan pada tempatnya. aku amat yakin jika kita berjodoh pasti akan dipertemukanNya, walau berat namun keyakinanku itu menguatkanku untuk melangkah pada keputusan berat tersebut, Insyaallah."

beberapa saat Nisa terdiam, berusaha mencerna baik-baik kata demi kata yang diucapkan Randi. awalnya Nisa agak bingung dan gundah dengan perasaannya, namun setelah ia menyadari maksud baik Randi terhadapnya, sejenak ia pun tersenyum dan menjawab."ya, ndi. aku mengerti apa yang kamu putuskan dan aku menerimanya." sambil menahan rasa haru.

diperjalanan pulang, mereka berdua lebih banyak terdiam. sesampainya dirumah, Nisa memuaskan tangis harunya, ia menyadari bahwa dirinya telah dipertemukan dengan sosok pemuda yang begitu kuat dan dewasa, mampu menghormatinya dengan layak, menghargai perasaannya dan memperlakukannya sebagai wanita seutuhnya dengan amat baik. ditengah kebanyakan pria lebih mengutamakan egonya untuk mengikat seorang wanita ditengah ketidak jelasan hubungan yang berbalut janji-janji semu yang sulit diharapkan, ia dipertemukan dengan Randi yang begitu tegas dan logis menyikapi hubungan antar mereka. iapun merasa bersyukur, amat bersyukur.

sejenak sebelum Nisa pergi tidur, Nisa sempat mengirimkan pesan singkat pada Randi, "Thx untuk semua keputusan baikmu Ndi, aku sangat mengerti dan bahagia menerima keputusan baikmu itu, semangat sekolahnya! aku selalu mendoakanmu."

Sunday, 20 February 2011

When They Ask My Father..

"Eh, kumaha kabar si bungsu? denge-denge geus lulus nya? gawe dimana ayeuna?", the friend of my father maybe ask him by this question when they meet at a lunch or the other time now, which mean, "Eh, how about your son? is he already graduated isn't he? so where he's working now?". maybe every father will very proud if could answer that question by some information which notice that their son working for a big multinational company, especially oil and gas, or maybe some national company which is  sound so"crunchy" to hear along with a great reputation (and of course...salary!).not to my father, he never answers that question on that way...

me,  fresh graduated boy from this state institute of technology that people says "the best". i have graduated by a good GPA and have an equal opportunity like the other friends of mine to getting a job. but i have my own dream, I'd love to call it by "sacrificing for the sake of science",chose to stay on campus, give a tutor material on physics course, doing some research, and assist the student on their daily lab activities while applying to enter next step of higher education abroad.

although, sometimes many people ask me, "why you still here?" or "still enjoying campus?", but i know, this step will guide me to get my own dream and my own success, to be a great (not only a good) lecture, to provide the best education for my future students -- that's why I need to receive the best education from the best university on my near-future education--. whatever they will say and ask, i know and realize that this is the way that i really want in my life. sharing my knowledge, surrounded by young people with their young spirit, doing some research and also always learning about everything. i just love it..that's all.

so, i believe that how often my father will be asked by anyperson about that question, he will answers it in his proudly way, because he really knows about his son's simple-big dream and he will always support me in every single step on this long journey. "don't worry, don't you ever compare your self with the others, just follow your bliss and enjoy your life because we have our own pathway and fortune", he said.

Tuesday, 15 February 2011

Several years ago..novel story and LHC impressed me..

Pagi dihari libur, seperti biasanya menghabiskan waktu bermalas-malasan setelah kemarin menghabiskan setengah hari untuk membuat poster penelitian yang akan dipamerkan di acara kampus besok. sekadar browsing-browsing ringan, cek FB dan email sambil mengaktifkan YM. seketika "pop" muncullah layar conversation YM dr seorang kawan disebrang lautan yang appear offline.

ia datang tiba-tiba, mengagetkan dengan kata-kata pertama yang tak biasa (walau memang kami biasa mendiskusikan hal-hal aneh akhir2 ini), menyebutkan istilah-istilah fisika partikel yang beberapa diantaranya masih asing dan lainnya telah biasa didengar. diawali dengan "tau higss boson particle?", yang kabarnya biasa disebut dengan "the God particle", partikel tersebut dapat memberi massa pada partikel lainnya, hingga akhirnya berbicara tentang LHC atau large hadron collider yang dibuat untuk membuktikan teori big bang yang termahsyur. LHC yang juga sempat ikut syuting film Angel and Demon beberapa waktu itu dibuat ditengah-tengah daratan Eropa yang berfungsi sebagai akselarator partikel yang hendak ditubrukkan guna membuktikan teori big bang.

aku tidak berniat membahas banyak tentang hal-hal scientific itu sekarang, membicarakan LHC, ak sejenak teringat pada beberapa tahun lalu, ketika pertamakalinya aku membaca novel angel and demon karya Dan Brown itu. harus ku akui, cerita dalam novel tersebut sedikit banyak mempengaruhi hidupku saat ini, karena saat membaca bab awal novel itu, seketika aku menyadari kerennya menjadi fisikawan. memang aneh, biar kedengarannya agak mengada-ada tapi memang begitulah adanya.

cerita ahli fisika yang terlibat dalam penelitian antimateri itu memang menarik hatiku yang kala itu sedang bingung menentukan pilihan kedua di ujian SPMBku yang akhirnya aku putuskan pada dua hari menjelang pengumpulan berkas untuk membulatkan tekad masuk ke TF, sebuah jurusan yang tak jarang membuat orang-orang mengerutkan dahi setelah mendengar namanya.

semenjak memasuki dunia ini, sedikit demi sedikit aku mulai mencintai bidang yang banyak membuat orang bergidik ini. fisika begitu banyak menyimpan keajaiban dan hukum-hukumnya mengikat seluruh aspek kehidupan. walau ku akui, semakin ku pelajari, bidang ini makin menampakkan kedalamannya dan makin menyembunyikan banyak misteri. memang aku tak semahir dan sepandai kawanku lainnya yang juara olimpiade, cumlauders atau penuh dengan prestasi macam-macam di bidang ini, but unless i'm finally find something to fall in love with, yang semakin dibahas semakin penasaran dan semakin terjawab malah menambah rasa keingintahuan lebih dalam lagi.   thanks to the novel, LHC and other things that impressed me several years ago..because now, i really love this area of knowledge..

Sunday, 23 January 2011

Kisah Amplop Dinas

sebuah amplop dinas, diciptakan secara massal dari sebuah pabrik kertas. dengan warna coklat bergaris-garis biru-merah disepanjang tepiannya. didesain secara khusus agar bisa memuat kertas berukuran A4 hingga folio. di bagian sealnya juga dilengkapi dengan tali pengikat dengan tujuan mengamankan apapun dokumen yang ada didalamnya. karena biasanya dokumen yang dilengkapi didalamnya merupakan dokumen penting.

sebuah amplop dinas tak dapat memilih kemana dirinya akan dibawa untuk didistribusikan pasca produksi massal di pabrik. ia juga tak bisa menentukan sendiri dokumen apa yang hendak dia sampaikan dan seberapa panjang perjalanan yang akan ia tempuh sebelum berakhir ditempat pembuangan sampah kertas ataupun digiling dalam mesin pencacah kertas.

mungkin ia akan beruntung, karena ia bisa berkeliling dunia. dikirim dari Indonesia, dikumpulkan di Singapura untuk dikirim ke London, Paris ataupun Leipzig, dan kemudian akan didistribusikan sesuai tujuan ke Bremen, Eindhoven, Stockholm atau Madrid. sambil membawa pesan rindu keluarga, aplikasi, ataupun surat perjalanan.


sebaliknya, tak seberuntung kawannya yang bisa keliling dunia, ia bisa saja berakhir di tepat di sebelah ruangan produksi. karena baru saja setelah ia "dilahirkan" dirinya langsung didaulat membungkus dokumen-dokumen gaji milik pabrik kertas itu sendiri.

tapi nasib kedua amplop dinas tadi tak setragis nasib amplop dinas ini. amplop ini adalah amplop yang "dilahirkan"ditengah masa-masa krisis ekonomi. ketika pabrik kertas mengalami kerugian besar dan terpaksa untuk me-PHK sebagian pekerjanya. amplop dinas ini dipaksa untuk mengemas surat PHK tersebut, dan sialnya lagi, setelah ia selesai memenuhi tugasnya, ia pun tak dibiarkan utuh, dia habis disobek-sobek oleh sang penerima yang begitu bersedih atas pemecatan yang diterima.

kedua amplop pertama memang jauh lebih beruntung, terlepas dengan pengalaman mereka yang berbeda, namun keberadaan mereka masih memimbulkan kesan baik pagi penggunanya. yang mungkin saja akan selalu disimpan oleh sang penerima, menjadi bagian dari memori indah hidup mereka. tapi nasib  membawa amplop ketiga kedalam situasi yang tak mengenakkan, dan berakhir dengan kesan yang kurang baik. sayangnya ia tak bisa memilih.

begitupun kita, kita diciptakan dengan tugas yang sama, dan dalam keadaan yang relatif sama. layaknya amplop tadi yang diproduksi massal dalam pabrik yang sama. nasib dan takdir membawa masing-masing kita menjalani ceritanya tersendiri. namun, kita masih memiliki kesempatan untuk memilih. memilih untuk menjadi amplop yg memberikan kabar baik, atau kabar buruk. memilih untuk menjelajah atau biar diam ditempat. kita dapat memilih kemana arah perjalanan kita dan mau dikenang seperti apakah kita nanti ketika raga kita sudah hancur tergiling masa.

berusahalah untuk menjadi amplop pembawa kabar bahagia, berkeinginanlah untuk merasakan indahnya menjadi amplop yang dapat melihat dunia dan singgah di bermacam tempat dalam tugasnya. berakhirlah sebagai amplop  yang kehadirannya selalu menyenangkan untuk dikenang.

Friday, 10 December 2010

Nollima Noldelapan Nolenam

Udara bandung masih jauh dari nyaman untuk dinikmati, dingin menusuk tulang hingga mentaripun enggan untuk melepas selimut hangatnya lebih cepat. di pagi buta ini, saat "toa-toa" masjid belum berniat untuk saling bersahutan, seorang pemuda telah terbangun dari mimpinya yang gelisah. karena hari ini adalah 5 Agustus 2006, salah satu hari yang begitu penting baginya.

tak kurang dari pukul 3 pagi, ia terbangun dari tempat tidurnya yang  hangat. dinginnya membasuh tubuh pada saat-saat sepagi itu tak menghalangi niatnya begitu kuat untuk melaksanakan shalat pada pagi itu, pagi yang mungkin akan merubah jalan hidupnya dan ia sadar sepenuhnya dengan apapun yang akan diputuskan dihari itu pada dirinya adalah jalan yang terbaik yang diberikan Sang Maha Kuasa, maka iapun memutuskan untuk memanfaatkan momen-momen last minutte ini dengan sebaik mungkin demi memohon segala yang terbaik dariNya hingga akhirnya 'toa-toa' masjidpun terbangun dari tidur panjangnya, melantangkan panggilan-panggilan untuk sembahyang, waktu subuhpun tiba..

selepas shalat subuh, saat-saat penantian yang mendebarkan. maklumlah, saat itu belum ada koneksi internet di rumah, sempat sepintas niatnya menelepon Ardi, sahabatnya yang memang memiliki koneksi internet dirumahnya namun niat itu cepat-cepat ia urungkan karena dua alasan; takut dia mendengar kenyataan yg kurang menyenangkan dari mulut sahabatnya sendiri ataupun takut juga sang sahabat tidak mencapai hasil yang ia inginkan.

menunggu dan menanti, walau kelakar orang yang menyatakan bahwa sesuatu yang makin ditunggu biasanya malah datang lebih lama dibanding jika dia tidak ditunggu benar-benar menjadi nyata, namun ia tetap bersikeras dalam penantiannya yang berlangsung agak lama. tukang koran yang biasanya datang pada pukul 05.30 tepat, pagi ini tak kunjung tiba walau jam telah berdentang enam kali. kesabarannya memang sedang diuji. ayah-bundanya membiarkan dia terdiam sendiri menunggu didepan rumah, karena mereka sangat mengerti kegelisahan sang anak dan keinginan tersiratnya untuk menikmati penantian ini sendiri saja.
merenung, melamun, membayangkan hal-hal indah atau juga menyiapkan mental untuk kenyataan terpahit silih berganti bergulat dalam hatinya. sampai terdengar suara benturan benda lunak di halaman rumahnya. akhirnya..yang ditunggu telah datang.

kedatangan ini tak kunjung memberikan kelegaan hati, justru inilah bagian paling menegangkan dari seluruh penantiannya. secepatnya ia meraih koran yang hari ini nampak lebih tebal dari biasanya, membolak-balik halamannya,sambil menyusuri baris-baris ribuan nama yang tercetak di lembar-lembarnya. halaman-berikutnya, halaman berikutnya, masih saja nomor lebih kecil, halaman berikutnya, masih lebih kecil, halaman berikutnya, tiba-tiba nomor anjlok menjadi lebih besar dari nomor peserta yang ia miliki. ahhhhh..perasaannya yang gelisah makin terasa, dibarengi perasaan takut dan sedih. "apakah aku benar-benar gak lulus?" dalam hatinya. lembaran-lembaran berikutnya sudah pasti akan memuat nomor yang lebih besar lagi. mata paniknya mulai menerawang, sampai akhirnya dia menyadari sesuatu.

nomor yang anjlok itu terlalu besar, agak ganjil, lantas ia melihat nomor halaman yang tertera diatasnya,"14" dan di halaman sebelahnya "19". aduuuhhh..ternyata ada halaman yang hilang, tanpa pikir panjang, dirinya langsung lari membuka dan keluar pagar rumah, mencoba mengejar tukang koran langganannya yang mungkin saja belum jauh pergi. "yah itu spedanya", hatinya lega melihat sepeda yang diparkir tak begitu jauh. walau keadaan terdesak seperti itu, dia masih enggan berteriak-teriak memanggil sang tukang koran karena khawatir menghebohkan tetangganya. dengan nafas terengah-engah, lengannya begitu tangkas meraih satu eksemplar koran yang masih tertumpuk di kantong belakang sadel sepeda, tanpa basa-basi dibukanya halaman paling tengah. matanya begitu liar menelusuri kolom-kolom panjang mencari nomor dan nama yang dikenalnya, nomor dan namanya sendiri.

"106-24-07579 Rezky A R 250945"

begitu lega, lega selega-leganya, namanya tertera dengan nomor dan kode peserta yang sama. dia lulus, walau dipilihan keduanya. begitu lega dan terhanyutnya, sampai-sampai ia tak menyadari bahwa sang tukang koran telah berdiri disampingnya sambil keheranan.
"kenapa mas?"
"oh...nggak papa" tukasnya singkat sambil senyum-senyum menukarkan koran yg kurang lengkap tadi tanpa sepengatahuan si tukang koran.
"lulus ya mas?" tanya si tukang koran, memeceh keheningan.
"alhamdulillah..makasih ya mang". sambil tersenyum dan dengan langkah ringan (sambil menahan keinginannya untuk melompat-lompat di tengah jalan) ia kembali ke rumah.

sejak saat itulah, Rezky selalu mengingat tanggal 5 Agustus sebagai hari pentingnya -begitu juga tukang koran yang dibelinya sebagai orang "dewa hermes" pengantar pesan bahagia-, hari dimana nasibnya mulai perlahan jelas terbuka, hari dimana ia resmi diterima di sebuah Institut kenamaan negeri ini.

Mentaripun terasa lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya...

Monday, 6 December 2010

It's (always) about Love

"Wah gw diambangin uy.."

Surprise answer dari seorang kawan waktu aku iseng-iseng menanyakan soal perkembangan kabarnya setelah lama kami tak bertemu. hmmmm...it's all about love and relationship that always be the most hot topic dari semua topik yang sering kami bicarakan. mengapa aku sedikit kaget mendengar jawaban itu? karena kawanku ini bukanlah tergolong anak muda kebanyakan,  siapakah dia? dia hanya salah satu kawan dekatku yang biasa saja, seperti banyak kawan-kawanku, seorang pemuda yang baru saja lulus dari pendidikan S1nya dengan indeks prestasi baik, berlatarbelakang sosio-ekonomi berkecukupan, berpenampilan baik dan cukup menarik, tapi ia memiliki keunikannya tersendiri.

mungkin jika aku mendengar kalimat tadi dari seorang kawan lainnya yang memang terbiasa dengan gaya hidup kebanyakan, ya gak aneh sih...wajar-wajar lha, setelah sekian kali nembak n tp-tp sana-sini diambangin sekali dua kali. tapi, karena perkataan ini diucapkan seorang kawan yang memang memiliki track record yang begitu berbeda n gak pernah aku sekalipun mendengar hal yang sama dari dirinya sebelumnya, tentu saja aku merasa kaget. dan rasa kaget itu tak akan habis sebelum aku mengetahui cerita lengkap dan latar belakang kisahnya...

"lho? kenapa? emg luw ngapain n tau dari mana?". pertanyaan sedikit menyecar sekaligus efektif untuk menginvestigasi persoalan macam ini.

"yah gitu, beberapa waktu lalu gw pernah ketemu ama dia, ya luw tau lha syapa yang sedari dulu gw suka, n gw juga sempet kirim e-mail yang isinya pernyataan perasaan gw ke dia secara langsung..n ga berapa lama dari waktu aku kirim e-mail, dia ngajak ketemuan..". tuturnya secara runut.

"hmmm..terus terus?". rasa penasaran ku menjadi.

"ya gitu, kita ketemu, tapi dia gak bilang apa-apa. dia cuma bilang dia agak heran dengan kiriman e-mailku itu n dia bilang klo dia blum siap untuk memulai semuanya". dia menjelaskan.

"lho, emang luw bilang apaan? kok reaksinya segitunya? luw ajak nikah?". tanyaku.

"ya gitu...gw bilang, gw suka ama dia, n gw srius dengan perasaan gw itu. gw juga bilang jika gw sebentar lagi dapat pekerjaan tetap, gw siap untuk berumah tangga. n gw juga sebelumnya nanya juga tentang apakah dia udh punya calon lain apa belum, dan dia bilang belum ada..".dia menjelaskan dengan mimik wajah polos.

persoalan seperti ini memang akan lebih rumit jika terjadi pada tipe orang seperti kawanku ini. bagi tipikal orang macam kawanku yang satu ini, persoalan cinta-cintaan gak bisa selse dengan asal suka sama lain, n saling nyatain, jadian dan soal kedepannya gimana nanti gitu aja. bagi dia, urusan seperti ini adalah persoalan serius yang gak bisa dianggap main-main sekadar coba-coba aja.

"ya..klo menurut gw sih, kejujuran n cara luw menyampaikan itu gak ada salah sih. tapi gw rasa sih kurang tepat aja waktunya. dia kan belum lulus dari kuliahnya so pasti dia g akan semudah itu memutuskan. dia pasti mikir soal pendidikannya dulu dibanding soal beginian." jawabku agak sok tau menyikapi persoalannya .

"ya..gw juga udh sadar soal itu..tp yang masing ganjel tuh, sekarang gw harus gimana. dia gak bilang secara tegas klo dia gak mau nerima. ya gak enak aja". tuturnya kebingungan."ya gw ngerasa diambangin lha, n klo dia bener gak mau ama gw ya bilang aja, so gw kan bisa nyari calon lainnya".

"eh..emang sgitunya luw mau nikah, masih muda gini?" tanyaku heran dengan kemantapan hatinya.

"ya..gw sih udh siap-siap aja, lagian dr keluarga juga ga ada masalah. klo gw udh lewat proses-proses pekerjaan yang gw jalani sekarang dan dapet kerjaan tetap gw rasanya waktunya udh deket". jawabnya mantap.

sepintas mungkin perkataannya ini terlalu naif untuk dikatakan seorang pemuda diawal umur duapuluhnya. tetapi secara jujur aku kagum dengan kemantapan hatinya ini. niat menikah adalah niat mulia, dan aku jauh lebih menghargai seorang pemuda yang berani berkomitmen secara utuh seperti ini dibanding yang hanya bisa memberikan pseudo-komitmen bagi pasangannya.

"yup..ok..ok..nampaknya sih udh cukup jelas ya..ini hanya soal waktu aja. memang terlalu cepet untuk memulainya sekarang. ya klo luw mau tenang, mau gak mau luw harus nyelesaiin urusan ini." aku coba mencari jalan keluar.

"ya..gw tau, tp gimana? sekarang dia gak pernah mau angkat telpon n klo di sms juga gak pernah bales..hpnya aja dimatiin pas pernah gw ajak ketemu beberapa waktu lalu". dia makin bingung.

"oh ya? mungkin kamu kirim aja surat or pesan buat dia yang bisa dibuka kapan aja, trus sms-in klo kmu udh kirim pesan..pasti minimal dia penasaran untuk baca kan?".

"trus? apa yang harus gw bilang?".

"hmmmmm...bilang aja luw sadar klo luw mengajukan pertanyaan itu terlalu dini. n luw menerima bahwa dia belum siap menjawab ajakan luw itu. bilang juga klo luw berniat menyelesaikan persoalan itu dan mengembalikan hubungan persahabatan kalian seperti sebelumnya". aku berusaha keras mencari solusi terbaik. "dan jangan lupa luw menutup dengan baik bahwa luw yakin kedepannya masing-masing dari kalian bakal dapet jodoh yang terbaik; jika luw emang berjodoh dengan dia pasti Allah akan mempertemukan kalian kembali dengan caraNya di waktu dan kondisi yang tepat, tapi klo ternyata bukan jodoh pasti akan ada orang yang jauh lebih baik menjadi pasangan kalian masing-masing".

"hmmm..bisa juga..ntar gw pikirkan dulu." jawabnya singkat dengan nada datar.

"ya..tenang aja lah..toh luw masih muda, g ush cepet-cepet juga gpp".

"ya sih..tp gw suka takut aja keduluan ama orang lain..". tuturnya sambil tersenyum kecil.

"ehh..jangan gitu, kita harus yakin bahwa jodoh sudah ditentukan. n gak akan kehabisan..insyaallah..emangnya barang obral yang telat sedikit keabisan?".

"hehehe..iya juga ya". dia tersenyum.

----
"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah". 
(Adz Dzaariyaat : 49)

Saturday, 20 November 2010

I'm so Proud of Him

Je lui dirai qu'ici bas tout s'apprend
Le bien le mal et même le bonheur
Qu'il ne perde
jamais ses yeux d'enfant
Devant trop de malheurs et de laideur
Qu'il regarde avec son coeur  

{ "je lui dirai" by Céline Dion}



(Aku ceritakan kepadanya semua yang dapat ia pelajari disini, 
yang baik, yang buruk juga kebahagiaan,
agar ia tidak pernah kehilangan mata kanak-kanaknya,
sebelum terjadi banyak penderitaan dan keburukan,
dia melihat lewat hatinya)
---


Memang tidak pernah mudah menghadapinya, baik mengekspresikan rasa sayangku padanya apalagi ketika aku harus  mengekspresikan ketidaksepakatanku terhadapnya. dia adalah sosok yang teramat istimewa buatku, begitu berharga dan begitu kucintai. namun aku selalu sadar bahwa bagaimanapun aku mencintanya, sebesar apapun berharganya ia bagi diriku, ia bukanlah barang antik atau pecah belah yang harus senantiasa dijaga didalam rumah,  dilindungi sedemikian rupa dan dijauhkan dari pengaruh luar.


dan apa yang aku lihat hari ini membuatku begitu bahagia, ia memang sosok lelaki yang begitu istimewa bagiku, dan aku begitu puas telah mencintainya dengan cara yang benar selama ini. banyak hal yang ia lakukan terkadang membuatku sedikit terkejut. ketika ia berkata di sela-sela perdebatan antarkami ataupun obrolan ringan belaka "aku pilih jalan ini karena memang itu yang aku cintai, dan aku siap dengan segala risiko dan konsekuensinya nanti, insyaallah aku akan menghadapinya dengan senang hati karena aku yakin memilih hal yang aku cintai","oh, aku rasa belum waktunya, aku tidak mau bermain dengan perasaan orang lain sebagaimana akupun tidak mau hatiku atau hati adikku dipermainkan oleh orang lain", "oh..aku rasa ini kurang baik, bagaimana kalau begini saja?","aku yakin pilihanku ini akan membawa banyak manfaat kedepannya".


walau memang ia terkadang tidak sabaran, sedikit tempramen dan manja, namun ia begitu gigih mengejar impiannya, ia begitu konsisten dengan prinsip-prinsip baiknya, ia begitu cerdas dalam memecahkan segala masalah hidupnya, dan ia begitu bijak dalam mengambil keputusan. he is pretty much alike his mother. yang telah mengajarkannya begitu banyak cinta dan kasih sayang, menasihatinya agar selalu mengasah kepekaan hati nurani bersihnya, memeringatkannya agar jangan bertindak seenaknya. 


akupun mencintainya selayaknya ibunya mencintainya, aku selalu mengajaknya  bermain ke tempat-tempat yang kurasa baik untuknya,memperkenalkannya pada dunia luar yang begitu menarik, dan akupun sering berdiskusi dengannya, tentang hidupnya, tentang keinginannya, keraguannya dan masalahnya biarpun tak jarang kami bersitegang dengan pendapat masing-masing, juga terjadi pertengkaran-pertengkaran kecil.


dan pada hari-hari ini, ketika ia berhasil meraih gelar akademiknya,ketika ia mulai menghasilkan dengan usahanya sendiri, ketika ia memberikan sejumlah uang pertamanya, ketika ia datang dengan wanita pilihannya. aku menyadari bahwa waktu-waktu yang telah kulewati dengannya telah begitu panjang, dan telah tiba waktuku untuk melepasnya, merelakannya berjalan sendiri menjemput semua hal yang ia yakini.


i'm so proud of him, and i love to called him "my son".

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons